Aku Bukan Superman

Kasihan sekali rasanya melihat beban tugas belajar yang diemban anak-anak jaman sekarang. Menjadi korban obsesi para profesor doktor yang pinter-pinter supaya seluruh anak Indonesia menjadi seperti mereka. Benarkah untuk bisa hidup di dunia ini kita harus dibekali dengan semua ilmu yang ada di dunia ini ? Mampukah setiap anak di Indonesia menyerap ilmu sebanyak para profesor doktor tersebut ? Apakah definisi sukses sebagai manusia Indonesia itu harus seragam ? Apakah semua harus kaya raya ? Apakah semua harus bertitel S3 , S4 , S5 ? Apakah hanya orang-orang seperti itu yang dapat berperan dalam pembangunan Indonesia yang besar ini ?

Stereotype-stereotype itu yang membuat kita tidak bisa menghargai peran orang lain dalam keberhasilan bersama. Karena hanya orang-orang dengan stereotype tertentu saja yang bisa dianggap berhasil.

Menurut saya keberhasilan itu harus dilihat dari banyak sisi , banyak faktor. Semua partisipan punya peran dalam menentukan keberhasilan, sehingga semua level dari yang paling bawah sampai paling atas harus dihargai perannya. Dengan pandangan seperti itu berarti keberhasilan masing-masing pribadi juga tidak bisa disamakan tergantung dari masing-masing keahliannya. Semua keahlian jadi harus dihargai. Semua kemampuan harus dihargai.

Tentu saja ada beberapa faktor/kemampuan dasar yang harus dikuasai setiap pribadi.

Karakter positif/budi pekerti adalah satu faktor yang harus dimiliki setiap individu. Supaya berperan terhadap komunitas individu-individu haruslah jujur , tepat janji , berani dan tentu saja faktor positif lain yang tidak dapat saya sebutkan karena tidak semua saya ketahui. Sayangnya saat ini anak-anak kita sekarang disuguhi contoh-contoh yang sebaliknya , padahal pendidikan yang paling efektif dalam bidang ini adalah CONTOH.

Kemampuan verbal dan tulis adalah hal kedua yang harus dimiliki oleh setiap individu untuk keperluan berkomunikasi. Bukan maksud saya mendiskriminasi para difabel karena para difabel bisa menggunakan media lain yang setara untuk berkomunikasi. Kemampuan ini penting kalau kita ingin maju bersama , tanpa adanya kemampuan ini yang ada hanyalah kekacauan karena selalu terjadi miskomunikasi. Pesan tidak pernah sampai ke tujuan sehingga eksekusi tidak pernah sesuai dengan yang diinginkan. Keputusan tidak dapat dibuat tepat sasaran karena informasi yang sampai mengalami distorsi karena salah dalam penyampaian.

Kemampuan berhitung adalah kemampuan dasar yang ketiga harus dimiliki oleh setiap individu. Semua individu harus dapat menghitung peran-peran yang dimilikinya. Dapat menghitung resiko-resiko yang menimpanya. Dapat menghitung keuntungan-keuntungan yang akan diterimanya. Masing-masing dapat menghindarkan diri dari penipuan.

Menurut saya ketiga hal itu yang harus dijejalkan pada pendidikan dasar sehingga anak-anak benar-benar siap untuk menerima ilmu pada jenjang berikutnya dan/atau berperan dalam komunitas pada tingkatan tertentu.

Di pendidikan yang lebih lanjut barulah anak-anak bisa diperkenalkan pada ilmu-ilmu lain yang dalam pembelajarannya sangat membutuhkan ketiga kemampuan tersebut untuk mencernanya. Pada pendidikan yang lebih tinggi barulah spesialisasi dilakukan.

Tapi itu semua memang hanya hasil pemikiran orang biasa yang hanya punya kemampuan pikiran sangat dangkal tidak bisa menjangkau jauh, hanya bisa menyimpulkan dari kejadian sehari-harinya untuk ditulis dalam lembar sampah. Yang melihat setiap hari orang-orang pinter yang hanya memanfaatkan kepandaiannya untuk keperluan diri sendiri dan menipu orang lain.Yang berpikiran kepandaian hanyalah merusak tanpa adanya karakter yang positif.