Budidaya Bambu

Advokasi pelestarian lingkungan selama ini terkesan kontra produktif bagi dunia industri. Terpikir oleh saya seandainya advokasi bisa lebih diarahkan untuk mendorong industri yang memang berlandaskan pada pelestarian lingkungan. Pemikiran inilah yang menginspirasi untuk menulis posting ini.

Kenapa bambu ? Karena bambu mudah tumbuh di negara kita tanpa bantuan pestisida maupun pupuk kimia buatan. Bambu juga mempunyai struktur akar yang kuat untuk menahan terjadinya erosi sehingga bagus ditanam di lereng. Bambu mempunyai kecepatan fotosintesis 35% lebih dibanding tumbuhan yang lain sehingga dapat memproduksi oksigen lebih banyak. Sekali ditanam, bambu tidak perlu ditanami lagi karena otomatis beranak-pinak, tentu saja dengan pola panen yang teratur dan bijaksana disesuaikan dengan pertumbuhannya. Melihat keunggulan-keunggulan tersebut pohon bambu nampak dapat menjadi kandidat yang bagus untuk pelestarian lingkungan.

Memang punya nilai ekonomis ? Minimal ada dua hasil akhir dari bambu yang saat ini (sangat) dibutuhkan manusia, yaitu kertas dan kain. Khususnya kain yang berasal dari serat bambu mempunyai keunggulan dapat menghambat pertumbuhan bakteri sampai 70%. Pernah membaca tag pada kaos kaki/pakaian dalam yang meng-klaim sebagai anti bakteri ? Kemungkinan bahan dasarnya sudah dicampur dengan serat bambu.

Terus prosesnya bagaimana ? Proses awal sebelum menjadi kertas atau kain adalah kita harus memisahkan serat bambu dari batang bambu melalui proses pulping. Proses ini menggunakan cairan kimia yang berpotensi menghasilkan limbah. Untuk meminimalkan kadar limbah ini limbah yang terjadi harus diolah melalui recovery boiler supaya didapat cairan kimia yang akan digunakan pada proses pulping tadi. Proses pulping tadi berlaku baik pada pembuatan kertas maupun kain hanya serat yang dihasilkan berbeda ukurannya.

Pada pembuatan kertas serat yang dihasilkan lebih halus dan bisa diproses menjadi kertas seperti pada pembuatan kertas yang biasa.

Pada pembuatan kain serat yang dihasilkan haruslah lebih panjang dan lebih teratur supaya dapat diproses selanjutnya. Proses berikutnya biasanya meliputi pencucian untuk menghilangkan unsur-unsur lain, penyisiran supaya serat menjadi lebih teratur dan peminyakan supaya serat mudah dipintal.
Setelah serat siap dipintal maka serat bambu tadi dapat dipintal dengan mesin pintal biasa supaya menjadi benang.
Setelah menjadi benang tahap berikutnya tentu saja penenunan untuk menjadi kain.

Bagaimana ? Ada yang berminat mem-bambu-kan Bandung Utara yang sudah semakin gundul ? Nanti tinggal merevitalisasi industri tekstil majalaya dengan bahan baku serat bambu.